Selamat Pagi Cinta

Posted in Puisiku with tags , , , , , , , , , , , , , , , , , , on December 12, 2009 by dfoenism

Desah nafas ini harum meradang

Dengan musim semi yang kini segar merekah

Ranum mengalahkan segala keputusasaan manusia

Tertulis sebuah kalimat pada daun yang terkoyak;

‘Selamat pagi cinta…harapanku tak kan sirna’

dfoe, November 2009

Mendung Pagi dan Elegy

Posted in Chronicles with tags , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , on November 25, 2009 by dfoenism

Pusing berputar di kepala serasa ingin didekap lelap lagi. Pagi ini suram, mendung. Sepertinya langit akan menangisi bumi lagi, alam akan kembali kelam, membuat aku malas untuk melanjutkan hari. Kantuk terasa masih lengket, makin lengket lagi karena atmosfer ini, menyakitkan jiwa melemahkan tubuh dan menurunkan semangat dengan drastis. Aku lirik lagi tempat tidur yang nikmat.

Lalu tanpa sadar, aku dibawa melintasi masa. Disana, di sebuah jalan kecil yang becek, kulihat seorang remaja laki-laki mengayuh sepeda ontelnya yang usang. Sepedanya berembun, basah. Ternyata mendung yang menggelayut manja di atas kepalanya telah berubah menjadi tetesan-tetesan kecil rapat yang membasahi rambutn tebalnya, menyuruh matanya menyipit, membuat seragam putih abu-abunya kebes. Ia terlihat basah dan kumuh. Tapi pagi itu si anak tak memedulikan keadaan dan tetap mengayuh berat sepedanya melawan air yang menggenangi jalan, mengatasi angin yang menderu dari arah berlawanan.

Hingga tiba ia di sebuah pertigaan, disambut seorang temannya yang juga bersepeda dari arah yang berbeda. Gadis itu tersenyum, menemani kekuyuban si remaja, jaket oranye yang dipakainya untuk melindungi tubuh dari dingin terlihat lebih tua. Baru beberapa puluh meter mereka beriringan mengayuh, terdengar suara berseru seorang gadis lainnya dari simpangan lainnya. Ia mengayuh sepedanya dengan susah payah mengimbangi laju mereka berdua, rambut kuncir kudanya sudah agak layu karena basah.

Si remaja merasa senang dan tenang dengan kehadiran teman-teman sepersepedaannya itu. Ia lebih menikmati hujan yang membasuh muka lusuhnya, tak lagi ia mengayuh cepat-cepat. Temannya telah membuatnya berada.

Saat melewati rel kereta api, mereka bertemu seorang teman laki-laki yang sedang berteduh di bawah tenda warung. Melihat mereka, ia tertular keriangannya, hingga memutuskan untuk ikut merasakan kegembiraan meraka akan hujan, menjalani perjuangan menuju sekolah.

Asyiknya mereka berempat bersepeda hingga tanpa sadar telah sampai di pintu gerbang sekolah. Begitu sampai di parkiran, mereka berjanji untuk bersepeda bersama lagi melawan hujan. Awan pun tampak merestui niat mereka. Ia tak menghentikan hujannya hingga siang harinya, saat mereka pulang sambil membawa bekal baru.

Tiba-tiba aku tersedot kembali ke masa kini, merasakan semangat mereka, kembali mengaliri urat nadi. Kakiku kini melangkah turun menapak lantai, meninggalkan tempat tidur yang akan dengan setia menungguku hingga saat lelah tiba petang nanti. Aku kemudian sadar, mengenali wajah si remaja lusuh tadi.

Mukanya sama dengan mukaku.

dfoe, November 2009

Gairah

Posted in Puisiku with tags , , , , , , , , , , , , , , , , , , , on November 11, 2009 by dfoenism

Meluap membanjiri insan

Melangkahi tulang-tulang yang merana

Memaksa diri berlaku parau

Menggoda dengan syair-syair memukau

 

Merenggut kain yang sebelumnya putih

Memoles dengan tinta yang merintih

Memabukkan bahasa surau

Mendesahkan kokang kacau

 

Tidak, tidak, dan tidak

Takkan kau kubiarkan kudeta

Aku majikan kau pelayan

Aku yang penguasa kau patuh padaku

dfoe, October 2009

Aku Ingin

Posted in Guest with tags , , , , , , , , , , , , , , , , , , , on November 11, 2009 by dfoenism

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(Sapardi Djoko Damono)

Bonds

Posted in My Poem with tags , , , , , , , , , , , , , , on November 4, 2009 by dfoenism

We are dreamers

No matter what we together

Taking granted and have injured

Fighting for what we believe

 

We are brothers

Within every bizarre muscles

Without the same blood bleeds

Wheeze but always keeps

 

We are rulers

But chained we rest

Making the world lined

Still we bond as Moslems

dfoe, 28/10/2009, 6.46 pm

Hilang

Posted in Puisiku with tags , , , , , , , , , , , , , on October 6, 2009 by dfoenism

Aku ingin tenggelam

terendam dan raib oleh bumi

Menghilang dan lega

dari segala tumpukan

bahu yang mematok nyeri

Melarikan diri

menuju garis jendela bidadari

yang menunggu jemputan angin

dfoe, 06/10/09

Pada Pergantian II

Posted in Puisiku with tags , , , , , , , , , , , , , , , , on October 6, 2009 by dfoenism

Pada tiap pergantian senja,

terbentang sejuta tanya tentang kita

Tentang berita walimah antara langit dan bumi,

antara siksa dan dunia

Tiada hal berati kecuali diri ini

bertarung melawan kebrutalan pribadi

Naik menghancurkan hijab dunia

dengan akal dan iman

dfoe, 04/10/09

Pada Pergantian I

Posted in Puisiku with tags , , , , , , , , , , , , on October 6, 2009 by dfoenism

Pada tiap pergantian hari,

ada cerita yang terbentuk di kota memori

Sejarah yang terungkap melalui kontemplasi-kontemplasi

penuh kepercayaan pada Sang Maha

Terdampar atau tidak

pilihan ada di tangan para pelukis dunia

dfoe, September 09

Persinggahan Terakhir

Posted in Guest with tags , , , , , , , , , , on September 16, 2009 by dfoenism

Dimulai dengan begitu indah

Mentari kian menghujam bumi

Tapi tetap saja meninggalkan sisa perjuangan semalam

Butuh berjuta lobi dan penawaran,

ego kian dekat dengan bunga rampai

Laksana daun mulai menguning, kering

Masih pasif di persinggahan terakhir

Terjebak di dalam ruang kosong

Hitam lekam,

meski terbasuh wudhu subuh tadi

rifan 06/2009

Seperti Pelana

Posted in Guest with tags , , , , , , , , , , on September 16, 2009 by dfoenism

Seperti pelana

begitu berat ditunggangi angin malam

Dipojok kota kecil nan indah di kala tersenyum

Brengsek ketika goyah

dan dingin di tiap malamnya

Begitu terkuras tentukan arah

Menukar jiwa dan pertaruhkan nyawa

dan waktu satu ini

Haruskah seperti air dibiarkan?

Atau skak mat,

mati di tempat

rifan 06/09