Desah nafas ini harum meradang
Dengan musim semi yang kini segar merekah
Ranum mengalahkan segala keputusasaan manusia
Tertulis sebuah kalimat pada daun yang terkoyak;
‘Selamat pagi cinta…harapanku tak kan sirna’
dfoe, November 2009
Pusing berputar di kepala serasa ingin didekap lelap lagi. Pagi ini suram, mendung. Sepertinya langit akan menangisi bumi lagi, alam akan kembali kelam, membuat aku malas untuk melanjutkan hari. Kantuk terasa masih lengket, makin lengket lagi karena atmosfer ini, menyakitkan jiwa melemahkan tubuh dan menurunkan semangat dengan drastis. Aku lirik lagi tempat tidur yang nikmat.
Lalu tanpa sadar, aku dibawa melintasi masa. Disana, di sebuah jalan kecil yang becek, kulihat seorang remaja laki-laki mengayuh sepeda ontelnya yang usang. Sepedanya berembun, basah. Ternyata mendung yang menggelayut manja di atas kepalanya telah berubah menjadi tetesan-tetesan kecil rapat yang membasahi rambutn tebalnya, menyuruh matanya menyipit, membuat seragam putih abu-abunya kebes. Ia terlihat basah dan kumuh. Tapi pagi itu si anak tak memedulikan keadaan dan tetap mengayuh berat sepedanya melawan air yang menggenangi jalan, mengatasi angin yang menderu dari arah berlawanan.
Hingga tiba ia di sebuah pertigaan, disambut seorang temannya yang juga bersepeda dari arah yang berbeda. Gadis itu tersenyum, menemani kekuyuban si remaja, jaket oranye yang dipakainya untuk melindungi tubuh dari dingin terlihat lebih tua. Baru beberapa puluh meter mereka beriringan mengayuh, terdengar suara berseru seorang gadis lainnya dari simpangan lainnya. Ia mengayuh sepedanya dengan susah payah mengimbangi laju mereka berdua, rambut kuncir kudanya sudah agak layu karena basah.
Si remaja merasa senang dan tenang dengan kehadiran teman-teman sepersepedaannya itu. Ia lebih menikmati hujan yang membasuh muka lusuhnya, tak lagi ia mengayuh cepat-cepat. Temannya telah membuatnya berada.
Saat melewati rel kereta api, mereka bertemu seorang teman laki-laki yang sedang berteduh di bawah tenda warung. Melihat mereka, ia tertular keriangannya, hingga memutuskan untuk ikut merasakan kegembiraan meraka akan hujan, menjalani perjuangan menuju sekolah.
Asyiknya mereka berempat bersepeda hingga tanpa sadar telah sampai di pintu gerbang sekolah. Begitu sampai di parkiran, mereka berjanji untuk bersepeda bersama lagi melawan hujan. Awan pun tampak merestui niat mereka. Ia tak menghentikan hujannya hingga siang harinya, saat mereka pulang sambil membawa bekal baru.
Tiba-tiba aku tersedot kembali ke masa kini, merasakan semangat mereka, kembali mengaliri urat nadi. Kakiku kini melangkah turun menapak lantai, meninggalkan tempat tidur yang akan dengan setia menungguku hingga saat lelah tiba petang nanti. Aku kemudian sadar, mengenali wajah si remaja lusuh tadi.
Mukanya sama dengan mukaku.
dfoe, November 2009
Meluap membanjiri insan
Melangkahi tulang-tulang yang merana
Memaksa diri berlaku parau
Menggoda dengan syair-syair memukau
Merenggut kain yang sebelumnya putih
Memoles dengan tinta yang merintih
Memabukkan bahasa surau
Mendesahkan kokang kacau
Tidak, tidak, dan tidak
Takkan kau kubiarkan kudeta
Aku majikan kau pelayan
Aku yang penguasa kau patuh padaku
dfoe, October 2009
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
(Sapardi Djoko Damono)
We are dreamers
No matter what we together
Taking granted and have injured
Fighting for what we believe
We are brothers
Within every bizarre muscles
Without the same blood bleeds
Wheeze but always keeps
We are rulers
But chained we rest
Making the world lined
Still we bond as Moslems
dfoe, 28/10/2009, 6.46 pm
Aku ingin tenggelam
terendam dan raib oleh bumi
Menghilang dan lega
dari segala tumpukan
bahu yang mematok nyeri
Melarikan diri
menuju garis jendela bidadari
yang menunggu jemputan angin
dfoe, 06/10/09
Pada tiap pergantian senja,
terbentang sejuta tanya tentang kita
Tentang berita walimah antara langit dan bumi,
antara siksa dan dunia
Tiada hal berati kecuali diri ini
bertarung melawan kebrutalan pribadi
Naik menghancurkan hijab dunia
dengan akal dan iman
dfoe, 04/10/09
Pada tiap pergantian hari,
ada cerita yang terbentuk di kota memori
Sejarah yang terungkap melalui kontemplasi-kontemplasi
penuh kepercayaan pada Sang Maha
Terdampar atau tidak
pilihan ada di tangan para pelukis dunia
dfoe, September 09
Dimulai dengan begitu indah
Mentari kian menghujam bumi
Tapi tetap saja meninggalkan sisa perjuangan semalam
Butuh berjuta lobi dan penawaran,
ego kian dekat dengan bunga rampai
Laksana daun mulai menguning, kering
Masih pasif di persinggahan terakhir
Terjebak di dalam ruang kosong
Hitam lekam,
meski terbasuh wudhu subuh tadi
rifan 06/2009
Seperti pelana
begitu berat ditunggangi angin malam
Dipojok kota kecil nan indah di kala tersenyum
Brengsek ketika goyah
dan dingin di tiap malamnya
Begitu terkuras tentukan arah
Menukar jiwa dan pertaruhkan nyawa
dan waktu satu ini
Haruskah seperti air dibiarkan?
Atau skak mat,
mati di tempat
rifan 06/09