Archive for the Chronicles Category

Land of Fire

Posted in Chronicles with tags , , , , , , , , , , , , , on April 13, 2010 by dfoenism

The train left with its wonderful noises. The flow of the wind came along and gave such past redolent. The busy people walked back and forth alongside the station brought such a live sensation of life. And there I was, laying my butt on the grass with my ordinary friends. Then, we would go to the high school nearby and play some basketball. Everything was so damn good at that time; its happy thing, its normal tribute and its sad and troubled stuff. I was like a hero for myself. My land gave every simple thought of mine, that’s what I called Tanah Air, the land of water that gives so many good things for her children because she is so prosperous that even people could not imagine, so fertile.

My old people told me about the greatness of my land, how brave and pure are the hero that sacrificed their lives only for these pieces of lands, how noble are the folks that brought a good government. That they struggled to the well-being of this land. My mom, dad, teachers, friends and people used to tell me that. I, then, came to believe that that was all true and I truly absorbed it. That is was.

Then I realized something. That this land is truly fertile, indeed, but I don’t know why my surrounding went so bloody wrong. I was trapped and fooled by my own imagination and the fairytale. My ideal met my real. I got it all wrong and embarrassed at the same time. The party of peace inside me had turned into a mess. It’s just a lucky thing I didn’t lose my mind but I still had those symptoms of that lunatics.

I saw my world in a one-hundred-eighty degree angle. This land is not Tanah Air from the beginning, at least that’s what I thought. It is Tanah Api, the land of fire that is full of misery, full of heat, red alarm, death dealer, nightmare and insomnia, animal human, sadness, poverty, sickness, lies, crimes, and sins, and many other under zero things. That’s all because of the broken people. They caused many wars, visible and invisible. My land had been chewed by these mortals. I hadn’t even had a chance to see the true land that I and others inherited.

I experienced many evil lies conducted by my people. I witnessed a number of bad deeds in my surrounding. I took my insight to the sorrow landed. The nation that full of peace and joy is just utopia, something I just dreamt about every night. For me, my land is a waste now. I wished I could go to the place I should belong, but where? Yet, God still wants to try His human with so many ordeals.

Yes, now and maybe for a long decade, I would call my land Tanah Api.

Someday, I walked in the middle of the rice field. I heard a farmer said to his wife, “Alhamdulillah ya Bu, tanah air kita subur, besok kita bisa panen.”

dfoe, March 10

Advertisements

Mendung Pagi dan Elegy

Posted in Chronicles with tags , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , on November 25, 2009 by dfoenism

Pusing berputar di kepala serasa ingin didekap lelap lagi. Pagi ini suram, mendung. Sepertinya langit akan menangisi bumi lagi, alam akan kembali kelam, membuat aku malas untuk melanjutkan hari. Kantuk terasa masih lengket, makin lengket lagi karena atmosfer ini, menyakitkan jiwa melemahkan tubuh dan menurunkan semangat dengan drastis. Aku lirik lagi tempat tidur yang nikmat.

Lalu tanpa sadar, aku dibawa melintasi masa. Disana, di sebuah jalan kecil yang becek, kulihat seorang remaja laki-laki mengayuh sepeda ontelnya yang usang. Sepedanya berembun, basah. Ternyata mendung yang menggelayut manja di atas kepalanya telah berubah menjadi tetesan-tetesan kecil rapat yang membasahi rambutn tebalnya, menyuruh matanya menyipit, membuat seragam putih abu-abunya kebes. Ia terlihat basah dan kumuh. Tapi pagi itu si anak tak memedulikan keadaan dan tetap mengayuh berat sepedanya melawan air yang menggenangi jalan, mengatasi angin yang menderu dari arah berlawanan.

Hingga tiba ia di sebuah pertigaan, disambut seorang temannya yang juga bersepeda dari arah yang berbeda. Gadis itu tersenyum, menemani kekuyuban si remaja, jaket oranye yang dipakainya untuk melindungi tubuh dari dingin terlihat lebih tua. Baru beberapa puluh meter mereka beriringan mengayuh, terdengar suara berseru seorang gadis lainnya dari simpangan lainnya. Ia mengayuh sepedanya dengan susah payah mengimbangi laju mereka berdua, rambut kuncir kudanya sudah agak layu karena basah.

Si remaja merasa senang dan tenang dengan kehadiran teman-teman sepersepedaannya itu. Ia lebih menikmati hujan yang membasuh muka lusuhnya, tak lagi ia mengayuh cepat-cepat. Temannya telah membuatnya berada.

Saat melewati rel kereta api, mereka bertemu seorang teman laki-laki yang sedang berteduh di bawah tenda warung. Melihat mereka, ia tertular keriangannya, hingga memutuskan untuk ikut merasakan kegembiraan meraka akan hujan, menjalani perjuangan menuju sekolah.

Asyiknya mereka berempat bersepeda hingga tanpa sadar telah sampai di pintu gerbang sekolah. Begitu sampai di parkiran, mereka berjanji untuk bersepeda bersama lagi melawan hujan. Awan pun tampak merestui niat mereka. Ia tak menghentikan hujannya hingga siang harinya, saat mereka pulang sambil membawa bekal baru.

Tiba-tiba aku tersedot kembali ke masa kini, merasakan semangat mereka, kembali mengaliri urat nadi. Kakiku kini melangkah turun menapak lantai, meninggalkan tempat tidur yang akan dengan setia menungguku hingga saat lelah tiba petang nanti. Aku kemudian sadar, mengenali wajah si remaja lusuh tadi.

Mukanya sama dengan mukaku.

dfoe, November 2009

Langit Senja

Posted in Chronicles with tags , , , , , , , , , , , , , , , on April 3, 2009 by dfoenism

Sunset

Kawan, aku teronggok sendiri di atap rumah, memandang langit. Senja. Merah jingga, tampak merah darah bagiku. Beberapa hari yang lalu aku mendapat sebuah pesan sehabis maghrib, mengabarkan betapa cantiknya dan mempesonanya langit yang menjelang malam itu. Maka, inilah ritual baru beberapa hari ini, yang kulakukan setelah maghrib selesai dengan tugasnya. Naik ke atas atap, merenung, menatap langit arah ufuk barat, yang agak condong ke selatan, langit bagai dilipat-lipat. Mengingatkanku lebih keras daripada berita-berita kematian yang berkumandang lewat corong speaker masjid. Mendepak pikiran dengan pelbagai hal yang menjadi sihir dunia. Menjentikkan ingatan yang selalu saja kabur bahwa hidup seperti berlomba dengan waktu.

Kawan, kadang aku membayangkan memandang langit bakda maghrib ini dengan menghisap rokok. Kata orang, konon, nikmat. Sayangnya aku tidak merokok dan bukan seorang perokok. Yang kutahu, saat ritual ini kulakukan, tak pernah kupakai kacamataku. Aku ingin mataku telanjang saat kreasi mengagumkan itu tertangkap retinaku. Biar apa adanya aku ingin.

Kawan, masih, aku menatap nanar pada cahaya itu, disertai banyak suara berisik dari tetangga, entah itu obrolan gosip, suara televisi yang disetel keras-keras, suara speaker yang melantunkan lagu dangdut, dan suara lembut gemerisik angin, atau degup kencang nadi yang kurasakan tanpa sempat memikirkannya. Inilah suplementku setelah subuh. Cahaya yang terlahir dan cahaya yang mati untuk terlahir kembali esok hari, walau kini tanpa pertanda kokok ayam. Menyadarkan diri bahwa yang terlahir akan mati. Dan akan ada seorang yang lahir lagi tiap harinya yang juga kemudian ditiupkan sangkakala kecil untuknya suatu hari.

Untuk sang pengabar pesan tentang langit itu, aku berterimakasih.