Archive for cerita

Mendung Pagi dan Elegy

Posted in Chronicles with tags , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , on November 25, 2009 by dfoenism

Pusing berputar di kepala serasa ingin didekap lelap lagi. Pagi ini suram, mendung. Sepertinya langit akan menangisi bumi lagi, alam akan kembali kelam, membuat aku malas untuk melanjutkan hari. Kantuk terasa masih lengket, makin lengket lagi karena atmosfer ini, menyakitkan jiwa melemahkan tubuh dan menurunkan semangat dengan drastis. Aku lirik lagi tempat tidur yang nikmat.

Lalu tanpa sadar, aku dibawa melintasi masa. Disana, di sebuah jalan kecil yang becek, kulihat seorang remaja laki-laki mengayuh sepeda ontelnya yang usang. Sepedanya berembun, basah. Ternyata mendung yang menggelayut manja di atas kepalanya telah berubah menjadi tetesan-tetesan kecil rapat yang membasahi rambutn tebalnya, menyuruh matanya menyipit, membuat seragam putih abu-abunya kebes. Ia terlihat basah dan kumuh. Tapi pagi itu si anak tak memedulikan keadaan dan tetap mengayuh berat sepedanya melawan air yang menggenangi jalan, mengatasi angin yang menderu dari arah berlawanan.

Hingga tiba ia di sebuah pertigaan, disambut seorang temannya yang juga bersepeda dari arah yang berbeda. Gadis itu tersenyum, menemani kekuyuban si remaja, jaket oranye yang dipakainya untuk melindungi tubuh dari dingin terlihat lebih tua. Baru beberapa puluh meter mereka beriringan mengayuh, terdengar suara berseru seorang gadis lainnya dari simpangan lainnya. Ia mengayuh sepedanya dengan susah payah mengimbangi laju mereka berdua, rambut kuncir kudanya sudah agak layu karena basah.

Si remaja merasa senang dan tenang dengan kehadiran teman-teman sepersepedaannya itu. Ia lebih menikmati hujan yang membasuh muka lusuhnya, tak lagi ia mengayuh cepat-cepat. Temannya telah membuatnya berada.

Saat melewati rel kereta api, mereka bertemu seorang teman laki-laki yang sedang berteduh di bawah tenda warung. Melihat mereka, ia tertular keriangannya, hingga memutuskan untuk ikut merasakan kegembiraan meraka akan hujan, menjalani perjuangan menuju sekolah.

Asyiknya mereka berempat bersepeda hingga tanpa sadar telah sampai di pintu gerbang sekolah. Begitu sampai di parkiran, mereka berjanji untuk bersepeda bersama lagi melawan hujan. Awan pun tampak merestui niat mereka. Ia tak menghentikan hujannya hingga siang harinya, saat mereka pulang sambil membawa bekal baru.

Tiba-tiba aku tersedot kembali ke masa kini, merasakan semangat mereka, kembali mengaliri urat nadi. Kakiku kini melangkah turun menapak lantai, meninggalkan tempat tidur yang akan dengan setia menungguku hingga saat lelah tiba petang nanti. Aku kemudian sadar, mengenali wajah si remaja lusuh tadi.

Mukanya sama dengan mukaku.

dfoe, November 2009

Advertisements

Langit Senja

Posted in Chronicles with tags , , , , , , , , , , , , , , , on April 3, 2009 by dfoenism

Sunset

Kawan, aku teronggok sendiri di atap rumah, memandang langit. Senja. Merah jingga, tampak merah darah bagiku. Beberapa hari yang lalu aku mendapat sebuah pesan sehabis maghrib, mengabarkan betapa cantiknya dan mempesonanya langit yang menjelang malam itu. Maka, inilah ritual baru beberapa hari ini, yang kulakukan setelah maghrib selesai dengan tugasnya. Naik ke atas atap, merenung, menatap langit arah ufuk barat, yang agak condong ke selatan, langit bagai dilipat-lipat. Mengingatkanku lebih keras daripada berita-berita kematian yang berkumandang lewat corong speaker masjid. Mendepak pikiran dengan pelbagai hal yang menjadi sihir dunia. Menjentikkan ingatan yang selalu saja kabur bahwa hidup seperti berlomba dengan waktu.

Kawan, kadang aku membayangkan memandang langit bakda maghrib ini dengan menghisap rokok. Kata orang, konon, nikmat. Sayangnya aku tidak merokok dan bukan seorang perokok. Yang kutahu, saat ritual ini kulakukan, tak pernah kupakai kacamataku. Aku ingin mataku telanjang saat kreasi mengagumkan itu tertangkap retinaku. Biar apa adanya aku ingin.

Kawan, masih, aku menatap nanar pada cahaya itu, disertai banyak suara berisik dari tetangga, entah itu obrolan gosip, suara televisi yang disetel keras-keras, suara speaker yang melantunkan lagu dangdut, dan suara lembut gemerisik angin, atau degup kencang nadi yang kurasakan tanpa sempat memikirkannya. Inilah suplementku setelah subuh. Cahaya yang terlahir dan cahaya yang mati untuk terlahir kembali esok hari, walau kini tanpa pertanda kokok ayam. Menyadarkan diri bahwa yang terlahir akan mati. Dan akan ada seorang yang lahir lagi tiap harinya yang juga kemudian ditiupkan sangkakala kecil untuknya suatu hari.

Untuk sang pengabar pesan tentang langit itu, aku berterimakasih.