Archive for dunia

Pada Pergantian II

Posted in Puisiku with tags , , , , , , , , , , , , , , , , on October 6, 2009 by dfoenism

Pada tiap pergantian senja,

terbentang sejuta tanya tentang kita

Tentang berita walimah antara langit dan bumi,

antara siksa dan dunia

Tiada hal berati kecuali diri ini

bertarung melawan kebrutalan pribadi

Naik menghancurkan hijab dunia

dengan akal dan iman

dfoe, 04/10/09

Advertisements

Kami Perubah Dunia

Posted in Puisiku with tags , , , , , , , , , , on May 13, 2009 by dfoenism

Kami ini sejalang-jalangnya binatang jalang

Memperkosa dunia sampai berdarah-darah

hingga ke tulang-tulang kerakusan

Kemaluan kami sirna oleh nafsu penghidupan

Merongrong menusuk rahim yang keguguran di lubang kematian

Tertawa terbahak-bahak terhadap kejumawaan kami sendiri

yang terlunta kutukan mendesis resah

Kami merubah dunia menjadi ular

yang membelit diri kami sendiri dalam rinai jerit memilukan

dfoe, 06/05/09; 18.22 pm

Langit Senja

Posted in Chronicles with tags , , , , , , , , , , , , , , , on April 3, 2009 by dfoenism

Sunset

Kawan, aku teronggok sendiri di atap rumah, memandang langit. Senja. Merah jingga, tampak merah darah bagiku. Beberapa hari yang lalu aku mendapat sebuah pesan sehabis maghrib, mengabarkan betapa cantiknya dan mempesonanya langit yang menjelang malam itu. Maka, inilah ritual baru beberapa hari ini, yang kulakukan setelah maghrib selesai dengan tugasnya. Naik ke atas atap, merenung, menatap langit arah ufuk barat, yang agak condong ke selatan, langit bagai dilipat-lipat. Mengingatkanku lebih keras daripada berita-berita kematian yang berkumandang lewat corong speaker masjid. Mendepak pikiran dengan pelbagai hal yang menjadi sihir dunia. Menjentikkan ingatan yang selalu saja kabur bahwa hidup seperti berlomba dengan waktu.

Kawan, kadang aku membayangkan memandang langit bakda maghrib ini dengan menghisap rokok. Kata orang, konon, nikmat. Sayangnya aku tidak merokok dan bukan seorang perokok. Yang kutahu, saat ritual ini kulakukan, tak pernah kupakai kacamataku. Aku ingin mataku telanjang saat kreasi mengagumkan itu tertangkap retinaku. Biar apa adanya aku ingin.

Kawan, masih, aku menatap nanar pada cahaya itu, disertai banyak suara berisik dari tetangga, entah itu obrolan gosip, suara televisi yang disetel keras-keras, suara speaker yang melantunkan lagu dangdut, dan suara lembut gemerisik angin, atau degup kencang nadi yang kurasakan tanpa sempat memikirkannya. Inilah suplementku setelah subuh. Cahaya yang terlahir dan cahaya yang mati untuk terlahir kembali esok hari, walau kini tanpa pertanda kokok ayam. Menyadarkan diri bahwa yang terlahir akan mati. Dan akan ada seorang yang lahir lagi tiap harinya yang juga kemudian ditiupkan sangkakala kecil untuknya suatu hari.

Untuk sang pengabar pesan tentang langit itu, aku berterimakasih.

Rimaku

Posted in Puisiku with tags , , , , , , , on February 15, 2009 by dfoenism

Hari-hari ku berjalan serupa naratif fana,

semburat di pagi mengantar embun,

semriwing mengejang bila belantara hari tiba,

menampar-nampar angin saat cahaya mangkat,

terdampar keras oleh dunia tak berarah

dfoe, Oct 2008