Archive for mati

Seperti Pelana

Posted in Guest with tags , , , , , , , , , , on September 16, 2009 by dfoenism

Seperti pelana

begitu berat ditunggangi angin malam

Dipojok kota kecil nan indah di kala tersenyum

Brengsek ketika goyah

dan dingin di tiap malamnya

Begitu terkuras tentukan arah

Menukar jiwa dan pertaruhkan nyawa

dan waktu satu ini

Haruskah seperti air dibiarkan?

Atau skak mat,

mati di tempat

rifan 06/09

Advertisements

Sosok Masa Depan

Posted in Guest with tags , , , , , , , on September 16, 2009 by dfoenism

Menggigil tubuh ini di pojok kamar

Terbujur kaku

takut melihat sosok masa depan yang menyeramkan

Kalut pikiran ini terbayang esok yang kan datang

Lalu beranjak mati

tanpa tinggalkan suatu arti

jellyfish, 08/2009

Kami Perubah Dunia

Posted in Puisiku with tags , , , , , , , , , , on May 13, 2009 by dfoenism

Kami ini sejalang-jalangnya binatang jalang

Memperkosa dunia sampai berdarah-darah

hingga ke tulang-tulang kerakusan

Kemaluan kami sirna oleh nafsu penghidupan

Merongrong menusuk rahim yang keguguran di lubang kematian

Tertawa terbahak-bahak terhadap kejumawaan kami sendiri

yang terlunta kutukan mendesis resah

Kami merubah dunia menjadi ular

yang membelit diri kami sendiri dalam rinai jerit memilukan

dfoe, 06/05/09; 18.22 pm

Langit Senja

Posted in Chronicles with tags , , , , , , , , , , , , , , , on April 3, 2009 by dfoenism

Sunset

Kawan, aku teronggok sendiri di atap rumah, memandang langit. Senja. Merah jingga, tampak merah darah bagiku. Beberapa hari yang lalu aku mendapat sebuah pesan sehabis maghrib, mengabarkan betapa cantiknya dan mempesonanya langit yang menjelang malam itu. Maka, inilah ritual baru beberapa hari ini, yang kulakukan setelah maghrib selesai dengan tugasnya. Naik ke atas atap, merenung, menatap langit arah ufuk barat, yang agak condong ke selatan, langit bagai dilipat-lipat. Mengingatkanku lebih keras daripada berita-berita kematian yang berkumandang lewat corong speaker masjid. Mendepak pikiran dengan pelbagai hal yang menjadi sihir dunia. Menjentikkan ingatan yang selalu saja kabur bahwa hidup seperti berlomba dengan waktu.

Kawan, kadang aku membayangkan memandang langit bakda maghrib ini dengan menghisap rokok. Kata orang, konon, nikmat. Sayangnya aku tidak merokok dan bukan seorang perokok. Yang kutahu, saat ritual ini kulakukan, tak pernah kupakai kacamataku. Aku ingin mataku telanjang saat kreasi mengagumkan itu tertangkap retinaku. Biar apa adanya aku ingin.

Kawan, masih, aku menatap nanar pada cahaya itu, disertai banyak suara berisik dari tetangga, entah itu obrolan gosip, suara televisi yang disetel keras-keras, suara speaker yang melantunkan lagu dangdut, dan suara lembut gemerisik angin, atau degup kencang nadi yang kurasakan tanpa sempat memikirkannya. Inilah suplementku setelah subuh. Cahaya yang terlahir dan cahaya yang mati untuk terlahir kembali esok hari, walau kini tanpa pertanda kokok ayam. Menyadarkan diri bahwa yang terlahir akan mati. Dan akan ada seorang yang lahir lagi tiap harinya yang juga kemudian ditiupkan sangkakala kecil untuknya suatu hari.

Untuk sang pengabar pesan tentang langit itu, aku berterimakasih.